f Jejak Para Sultan Bima - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Jejak Para Sultan Bima


322 Tahun kesultanan Bima memainkan peranan penting dalam percaturan sejarah dan budaya Nusantara dan bahkan dunia. Silih berganti para Sultan, Ruma bicara, dan para ulama bahu membahu dengan rakyat membangun sendi-seni kehidupan yang kental dengan nuansa islam. Mereka berjuang dengan cucurah darah dan derai air mata melawan para penjajah. Patah tumbuh hilang berganti,konsistensi perjuangan tetap ditunjukkan demi persada pertiwi dan rakyat. Kecemerlangan itu harus berakhir di masa –masa api proklamasi terus membahana di persada pertiwi. Kesultanan Bima harus bergabung dengan NKRI. Empat belas sultan mewakili empat belas generasi telah menorehkan sejarah panjang dan tatanan nilai dan memberi arti bagi jalan panjang sejarah tanah Bima. Kesultanan Bima dilahirkan oleh sejarah dan diakhiri  juga oleh sejarah itu sendiri.

Sebagai kenangan sejarah, berikut rangkuman jejak dan kiprah 16 sultan Bima. 14 sultan berkiprah sebelum bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan 2 sultan yang terus bekiprah mengisi kemerdekaan adalah Sultan Abdul Kahir II dan H.Ferry Zulkarnain, ST.

Sultan Abdul Kahir I ( Rumata Ma Bata Wadu 1601-1640 M)

Masjid Kalodu yang didirikan Abdul Kahir I bersama mubaliq dari Gowa 
Lahir di Bima pada tahun 1020 H (+tahun 1601 M) putra pertama dari Mantau Asi Sawo. Nama ibunya tidak dijelaskan dalam silsilah raja-raja Bima yang tertulis  pada naskah BO (Naskah Kuno Bima). Sultan Abdul Kahir mempunyai dua saudara laki-laki, yaitu Mandundu Wenggu dan Mantau Dana Rabadompu. Sebelum memeluk agama islam pada tahun 1621,  bernama “ LaKa’i”, Pada tahun 1623, hijrah ke Makassar dan tinggal di lingkungan istana makassar selama 19 tahun. Kemudian menikah dengan adik dari permaisuri Sultan Alauddin Makassar yang bernama “ Daeng Sikontu “. Dari pernikahan itu, memperoleh empat orang putra, masing-masing bernama Abdul Khair Sirajuddin, Ruma Parewa, Ma Mbora di Lawa dan Ma Mbora di Kanari serta seorang putri yang bernama Mantau Asi Mbojo. Dari pernikahan dengan istri yang lain, memperoleh seorang putra yang bernama Abdul Rahim.

Abdul Kahir I Merintis dan mendirikan Kesultanan Bima pada 5 Juli 1640 dan wafat beberapa bulan setelahnya tepatnya pada tanggal 22 Desember 1640. Abdul Kahir mengikrarkan sumpah di Raba Parapi Parangina Sape, yang populer dengan “ Sumpah Parapi “. Sumpah ini berisi pernyataan untuk menjunjung tinggi agama islam, serta siap mengorbankan jiwa raga demi agama, rakyat dan negeri. Ia bertekad untuk membentuk pemerintahan yang berdasarkan syariat islam dan adat yang bersendi sara, sara bersendi katabullah. Setibanya di Kalodu,  Abdul Kahir I mendirikan Masjid (masjid tertua di Bima) untuk dijadikan pusat dakwah. Kegiatan Dakwah yang dilakukan oleh  Abdul Kahir I mendapat sambutan positif dari rakyat. Mereka berbondong-bondong memeluk agama islam, serta memberikan dukungan kepada  Abdul Kahir I.

Sultan Abdul Khair Sirajuddin Bergelar Mantau Uma Jati ( 1640-1682)

Upacara Adat Hanta UA PUA 
Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera Sultan Abdul Kahir I dengan permaisuri Daeng Sikontu, adik permaisuri Sultan Alauddin Makassar. Lahir di lingkungan istana Makassar pada bulan ramadhan 1038 H (April 1627 M). Sesuai dengan adat istiadat Makassar, sewaktu masih kecil memperoleh “ Areng Dondo-Dondo’ (nama topeng)” I Ambella” (putra kecil). Setelah agak besar memperoleh nama “ Areng Ri Kale “ (nama diri atau nama sebenarnya) Abdul Khair Sirajuddin. Didalam silsilah raja-raja Bima yang tertera dalam BO (Naskah lama Bima), namanya adalah “ Abil Khair Sirajuddin” dan pada bagian lain dari sumber yang sama ditulis “ Abdul Khair Sirajuddin”.

Pada tanggal 22 Rajab 1056 H atau 3 September 1646 menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne’ puteri Sultan Taloko Malikul Said (Sultan Makassar II). Dikaruniai tiga orang putra dan putri. Yang putra masing-masing bernama Nuruddin, Membora Awa Taloko (nama gelar yang berarti “ yang mangkat di Taloko”), dan Jeneli Sape Mambora di Moyo (yang menjadi jeneli atau camat sape yang mangkat di moyo). Tiga orang putrinya masing-masing bernama Paduka Tallo (permaisuri raja tallo), Paduka Dompu (Permaisuri raja Dompu) dan Bonto Paja.
Abdul Khair Sirajuddin Menolak perjanjian Bongaya,mendirikan Benteng Asa Kota pada tahun 1667 dan menjadi target penangkapan VOC. Sebagai seorang seniman ipar dari sultan Hasanuddin Makassar ini banyak menciptakan tarian-tarian dan upacara adat seperti UA PUA dan atraksi kesenian tradisonal yang masih eksis hingga saat ini.

Langkah awal yang dilakukan ialah melakukan penyempurnaan struktur pemerintahan dengan mendirikan lembaga baru yang disebut “ Sara Hukum” yang beranggotakan para ulama dan tokoh agama. Dengan demikian hukum Islam mulai berperan dalam roda pemerintahan yang sebelumnya hanya dilaksanakan oleh Lembaga Sara Tua dan Sara-sara. Seiring dengan penyempurnaan struktur pemerintahan  dilaksanakan pembenahan di bidang keamanan. Struktur organisasi pertahanan keamanan mengikuti Makassar. Angkatan Perang dipimpin oleh seorang perwira tinggi yang disebut “Bumi Pabise Mbojo”, dibantu oleh “Bumi Pabise Bolo dan Kae”. Meningkatkan kemampuan personil angkatan laut, dibawah bimbingan para perwira angkatan laut Makassar. Melengkapi Prasarana / sarana angkatan perang yaitu dengan mendirikan benteng di pesisir Barat dan Timur Teluk Bima. Salah satu benteng yang terkenal, ialah”Bente Asa Kota”. Bersamaan dengan upaya penyempurnaan struktur organisasi pertahanan keamanan dan profesionalisme anggota laskar, Sultan Abdul Khair Sirajuddin membeli senjata modern seperti meriam dan bedil dari Portugis. Baru dua tahun hidup di tengah-tengah rakyatnya, pada tanggal 17 rajab 1091 H atau tanggal 22 Juli 1682, Sultan Abdul Khair Sirajuddin, pahlawan gagah perkasa  itu kembali ke alam baqa menghadap Yang Maha Kuasa. Jenazahnya dikebumikan di Makam Tolobali.

Sultan Nuruddin Abubakar Alisyah Bergelar Ma Wa’a Paju ( 1682 – 1687)

Nuruddin adalah putera Sultan Khair Sirajuddin dengan permaisurinya Bonto Je’ne puteri Sultan Malikul Said Makassar. Lahir pada tanggal 29 Zulhijah 1061 H bertepatan dengan tanggal 15 Desember 1651. Nama lengkapnya adalah “Nuruddin Abubakar Ali Syah” dan oleh orang Makassar diberi nama “Mapparabung Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Pada tanggal 22 Jumadil Awal 1095 H atau tanggal 7 Mei 1684, menikah dengan “ Daeng Tamemang” puteri Raja Tallo. Dari pernikahannya memperoleh duan orang putera, masing-masing bernama Jamaluddin dan Sangaji Bolo (nama gelar).

Sultan Nuruddin Menciptakan Payung Kebesaran Kesultanan Bima yang dikenal dengan Paju Monca. Membantu Perang Trunojoyo, ditawan Belanda di Batavia Jakarta. Mendirikan perkampungan Tambora di Jakarta Barat dan sebuah masjid berarsitektur Bima bersama sisa pasukannya. ( Dr.Noorduyn, Makasaar And The Islamization Of Bima). Dr. Peter Carey(1986 : 25) Nenek Pangeran Diponegoro adalah dari generasi ketiga Sultan Bima di pulau Sumbawa yang membantu perang Trunojoyo.

Pada masa pemerintahannya, para ulama bukan hanya berperan di bidang ubudiah, tetapi juga  ikut bertanggungjawab dalam perkembangan kebudayaan. Agar kebudayaan tetap berpedoman pada nilai dan norma islam, maka diangkat seorang mufti yang memiliki kemampuan dalam merumuskan system budaya (adat istiadat) yang Islami  melalui metode analogi atau kias. Adat lama yang bertentangan dengan nilai dan norma islam  ditinggalkan. Masyarakat harus mematuhi adat yang baik yaitu melaksanakan yang halal dan menjauhi yang haram.  Dalam ilmu fikih adat yang baik itu disebut “Urf Sahih”. Dengan demikianKebudayaan Mbojo baik system sosial maupun kebudayaan fisiknya harus Islami. Dengan perkataan lain kebudayaan Mbojo adalah kebudayaan Islam baik dari segi substansi maupun symbol atau label. Tetapi harus diakui bahwa masih ada anggota masyarakat, terutama yang berada di desa-desa terpencil yang masih mencampuradukkan adat yang Islami dengan adat lama. Sultan yang memiliki cita-cita mulia itu mangkat pada tanggal 13 Ramadhan 1099 H( tanggal 22 Juli 1687). Dimakamkan di dekat makam ayahnya di kompleks Makam Tolo Bali.

Sultan Jamaluddin Bergelar Ma Wa’a Romo ( 1687 – 1696 )

Disinilah Sultan Jamaluddin menghembuskan nafas terakhirnya
Nama lengkapnya “ Jamaluddin Inayat Syah” Putra sulung dari Sultan Nuruddin dengan permaisurinya Daeng Tamemang putri Raja Tallo. Oleh orang Makassar diberi nama “ Alasa Jamluddin”. Sultan Jamaluddin mempunyai saudra laki-laki yang setelah wafat diberi gelar “ Sangaji Bolo ‘ (tidak dijelaskan nama aslinya).Jamaluddin   lahir pada tahun 1673 M (drs. M. Hilir Ismail, 1988). Data tersebut bersumber dari “Bo tercecer” Transkripsi L. Massier Abdullah. Menurut Lontara Gowa dan Tallo serta naskah Bo, Sultan Jamaluddin melangsungkan pernikahan dengan siti Fatimah Karaeng Tana-Tana putri Karaeng Bisei Puteri dari Sultan Hasanuddin Makassar. Jadi Siti Fatimah Karaeng Tana-Tana adalah cucu dari Sultan Hasanuddin Makassar. Dari pernikahan itu,  memperoleh tiga orang putra, yaitu Hasanuddin (Sultan Bima V), Jeneli Sape Mambora di Gowa (nama gelar), La Kader yang meninggal di Bentaeng dan seorang putri yang bernama Raja Partiga Ma mbora di Reo (nama gelaran raja Partiga atau Ruma Partiga nama jabatan, Ma Mbora berarti yang mangkat).

Sultan Jamaluddin Menolak bekerja sama dengan Belanda. Akhirnya Belanda membuat jebakan dengan menuduh membunuh bibinya Permaisuri Sultan Dompu pada saat Sultan Jamaluddin mengunjungi Kesultanan Dompu tahun 1693. Sultan Jamaluddin diadili dan ditawan selama dua tahun di Benteng Fort Rotterdam Makassar kemudian ditahan di Batavia pada tahun 1695. Meninggal di Penjara Batavia (Sekarang Museum Fatahillah ) pada tahun 1696.

Melalui perjuangan yang berat dengan mengorbankan jiwa ranganya, Sultan Jamaluddin berhasil mewujudkan cita-citanya. Ia mampu mempertahankan kedudukan Kesultanan Bima sebagai pusat perdagangan bebas, pusat penyiaran islam dan sebagai pusat perjuangan melawan penjajah di wilayah  Nusantara bagian Timur. Mengambil alih Peranan Makassar dan Ternate yang sudak kian lemah.

Sultan Hasanuddin Bergelar Ma Wa’a Bou ( 1696 – 1731 )

Sultan Hasanuddin adalah putera Sulung dari Sultan Jamaluddin dengan permaisuri Karaeng Tana-Tana, putri Karaeng Bisei putera sultan Hasanuddin Makassar. Karena itu Sultan Jamaluddin memberi nama puteranya dengan Hasanuddin, mengikuti nama kakeknya yang dikenal anti penjajah. Oleh orang Makassar diberi nama “ I Mapattali”,. Lahir pada tanggal 22 zulkaidah 1100 H ( 7 September 1689). Dalam usia 25 tahun melangsungkan pernikahan dengan Karaeng Bissampole, bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1126 H ( 13 September 1714 M). Memperoleh tiga orang putera dan seorang putri. Yang putera masing-masing bernama Alauddin (Sultan Bima VI), yang kedua bernama Abdullah, yang gugur di medan pertempuran ketika memimpin laskarnya untuk membantu Raja Selaparang yang sedang berperang dengan Raja Karangasem  Bali. Putera ketiga bernama Ibrahim  dan puteri bungsu  diberi gelar “ Ma Mbora di Tallo” (yang wafat di Tallo, tidak dijelaskan nama dirinya).

Selama masa pemerintahnya yang berlangsung dari tahun 1696-1731, Sultan Hasanuddin telah mampu mewujudkan cita-cita untuk mempertahankan kemerdekaan rakyat dan negeri yang dicintainya. Bima tetap berperan sebagai pusat perdagangan bebas dan penyiaran agaa islam di wilayah Nusantara Timur. Selain tetap berperan sebagai Sultan yang menentang Belanda, Hasanuddin  juga telah berhasil mengadakan pembaharuan pada struktur dan organisasi pemerintah. Di Bidang Agama,ia  telah berhasil menyebarluaskan syiar Islam di daerah-daerah taklukannya melalui pendekatan seni budaya. Sehingga di daerah kekuasaannya berkembang seni budaya yang sarat dengan nilai Islam. Setelah berjuang demi rakyat dan negerinya, maka pada tanggal 14 Rajab 1145 H bertepatan dengan tanggal 23 Januari 1731 M, Sultan yang membawa angin pembaharuan itu mangkat. Jenazahnya di makam Dana Taraha sebelah timur makam Sultan Bima ke-16 H. Ferry Zulkarnain, ST.

Sultan Alauddin Muhammad Syah Bergelar Manuru Daha( 1731 – 1742 )

Mushaf La Lino peninggalan Masa Alauddin
Lahir pada tahun 1121 H atau tahun 1707 M, putra pertama dari Sultan Hasanuddin dengan permaisurinya Karaeng Bissampole. Nama lengkapnya Alauddin Muhammad Syah. Pada tanggal 17 Sya’ban 1140 H bersamaan dengan tanggal 5 April 1727 M menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamuncaragi, puteri Sultan Makassar Sirajuddin. Dari pernikahan itu  dikaruniai empat orang anak, terdiri dari seorang putra bernama Abdul Kadim (Sultan Bima VII), dan tiga putri masing-masing bernama Kumala Bumi Partiga (Kumala nama diri, Bumi Partiga nama Jabatannya), Bumi Runggu (nama jabatannya) dan Siti Halimah.

Pada tanggal 2 Zulhijah 1145 H bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1731, di tuha ro lanti menjadi Sultan Bima VI oleh Majelis Hadat Kesultanan. Mulai saat itu sampai  mangkat pada tahun 1742, memegang tampuk pemerintahan kesultanan.  Mangkat di Dusun Daha, Wilayah Kesultanan Dompu ketika sedang meninjau keadaan wilayah dompu. Dimakamkan di Dusun Daha, Karena itu diberi gelar “ Manuru Daha” (Yang mangkat di Daha).

Melanjutkan perjuangan Ayahandanya dengan menjalin hubungan politik ,ekonomi dan perdagangan dengan Makassar. Meninggal di Daha Dompu sehingga diberi gelar Manuru Daha. Upaya penyiaran agama Islam di wilayah taklukan Bima seperti di Manggarai dan Sumba terus dilanjutkan. Kegiatan dakwah di daerah Donggo, terutama di Donggo Ipa dilaksanakan dengan intensif. Sebagian masyarakat Donggo Ipa yang sebelumnya enggan meninggalkan agama lama berbondong-bondong menerima agama islam. Adat lama yang tidak sesuai dengan nilai norma Islam dilarang untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat harus mengembangkan adat (system budaya) yang Islami. Seni budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus ditinggalkan. Dengan demikian diharapkan Adat Mbojo akan melahirkan system sosial dan kebudayaan fisik yang islami, baik dari sisi substansi maupun label atau simbol.Sultan Alauddin dipanggil oleh yang Maha Kuasa pada tahun 1742 M. Ia mangkat ketika sedang menjalankan tugas melakukan peninjauan di Dusun Daha Wilayah Dompu. Jenazahnya dimakamkan di Dusun Daha, karena itu diberi gelar “Manuru Daha”atau yang dikebumikan di Daha.

Sultan Abdul Kadim Bergelar Ma Waa Taho ( 1742 – 1773 )

Makam Sultan Abdul Kadim
Putra  dari Sultan Alauddin, lahir di Bima pada tanggal 18 Muharam 1149 H (tahun 1729 M). mempunyai tiga saudara perempuan, masing-masing bernama Kumala Bumi Partiga, Bumi Runggu dan Siti Halimah. Setelah menikah dianugerahi empat orang anak, yaitu Abdul Hamid, Daeng Mataya, Daeng Pabeta (La Mangga) dan Ina Madu Rato Wa’i (perempuan).

Hal yang menarik juga adalah program Jumat Khusyu yang saat ini gencar dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bima maupun kota Bima melalui Piagam Mbojo yang dicanangkan sejak tahun 2002, sebenarnya sudah lama diterapkan di wilayah kekuasaan kesultanan Bima. Sultan Bima VI Abdul Kadim telah membuat larangan beraktifitas pada hari Jumat, hingga kepada kapal-kapal yang berlayar meninggalkan tanah Bima. “ bahwa apabila ia berjalan pada malam hari hendaklah membawa api penerangan dan bila berjalan di tengah hari jumat,waktu bersembahyang jumat, maka apabila ditangkap atau dibunuh oleh kawal, tiadalah dapat disesalkan kepada penguasa dan negeri Bima. Demikian pula jika ia berkelahi di dalam negeri atau pasar, jangankah sudah dihunus senjatanya, belum dihunuspun ia akan disita senjatanya oleh hukum dan didenda cukup berat, yaitu sepuluh tahlil muslim besar, karena ia membuat ketakutan pada orang-orang perempuan dalam negeri atau dalam pasar “ (Siti Maryam R.Salahuddin, Undang-undang Bandar Bima Hal :  88 )

Larangan itu terus berlangsung hingga di periode akhir kesultanan Bima. Pada hari jumat seluruh aktifitas dihentikan, termasuk pelayaran. Ancamannya cukup berat yaitu didenda cukup berat dan bahkan dibunuh jika melakukan perkelahian dan berbuat onar di pasar-pasar pada hari Jumat. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan ibadah pada hari jumat. Hal itulah mungkin yang masih dipegang teguh oleh para tukang-tukang dan kuli bangunan hingga saat ini. Mereka enggan untuk bekerja  dan menerima tawaran kerja pada hari jumat. Alasannya adalah menghormati hari juma’t.Setelah memegang tampuk pimpinan lebih kurang 30 tahun, tepatnya 1773 M, Sultan Abdul Kadim kembali ke alam baqa menghadap yang maha Kuasa dan dimakamkan di pemakaman keluarga istana di halaman masjid Istana. Sesuai dengan budi pekerti serta sikap dan perilaku semasa hidupnya yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang baik dan sopan, maka oleh rakyat diberi gelar “ Ruma Ma Wa’a Taho” (Sultan yang membawa kebaikan).

Sultanah Komalasyah ( Kumala Bumi Partiga ) ( 1747 – 1751 )

Parang Sakti  La Nggunti Rante. Pasangannya diperkirakan dibawa Komalasyah dalam pembuangannya
Nama diri atau nama sebenarnya adalah “Kumala”, tetapi karena memegang jabatan sebagai “Bumi Partiga “ maka populer dengan panggilan “Kumala Bumi Partiga” putri dari Sultan Alauddin dengan permaisurinya Karaeng Tana Sanga Mamuncaragi puteri dari Sirajuddin Sultan Makassar. Salah seorang adik laki-lakinya adalah Abdul Kadim (Sultan Bima VII). Di kalangan orang Makassar, dikenal dengan nama “Karaeng Ballasari”.

Setelah dewasa menikah dengan L Mappababbasa alias Abdul Kudus Sultan Makassar. Dari pernikahannya itu, melahirkan seorang putera bernama “Usman” yang nama Makassarnya dikenal dengan “Amas Madina”. Dalam usia enam tahun tepatnya tanggal 21 Desember 1753 diangkat menjadi Sultan Makassar oleh Dewan Bate Salapanga (Lembaga Pemerintahan Makassar ) menggantikan kedudukan ayahnya Sultan Abdul Kudus yang wafat pada tahun 1753.

Dia adalah Satu-satunya Sultanah dalam kesultanan Bima. Komalsyah adalah puteri dari Sultan Alauddin dan kakak dari Abdul Qadim. Komalasyah menikah dengan sultan Gowa  Abdul Qudus ( I Mappababbasa ). Mengambil alih kekuasaan ketika Abdul Qadim yang dilantik Majelis Hadat masih kecil dan diwalikan oleh perdana Menteri Abdul Nabi. Komala menganggap Abdul Nabi cenderung bekerja sama dengan Belanda. Akhirnya Belanda berhasil menawan Komalsyah bersama anaknya Amas Madina ( Batara Gowa ) dan dibuang ke Batavia kemudian di buang ke Ceylon Srilangka. Meninggal di pengasingan pada tahun 1751.

Sultan Abdul Hamid Bergelar Mantau Asi Saninu ( 1773 -1819)

Mahkota Kerajaan Bima yang dibuat pada masaAbdul Hamid
Abdul Hamid Putra dari Sultan Abdul Kadim, memiliki dua saudara laki-laki, yaitu Daeng Pabeta (La Mangga) dan daeng Pataya. Lahir di Bima pada tahun 1176 H (lebih kurang tahun 1762 M). Setelah dewasa dijodohkan dengan Datu Sagiri Putri Sultan Sumbawa. Dari pernikahannya itu dikaruniai seorang putra bernama Ismail dan seorang putri bernama Siti Jamila Bumi Kaka.Setelah Datu Sagiri wafat, Abdul Hamid menikah lahi dengan Siti Rafiatuddin, puteri sultan Harunalrasyid Sumbawa. 

Sebelum memegang Jabatan Sultan, oleh Majelis Hadat dilantik menjadi Jena Teke. Setelah ayahnya wafat pada tahun 1187 H (lebih kurang tahun 1773 M), dinobat menjadi Sultan. Sehubungan usianya yang masih sangat muda (lebih kurang 11 tahun), maka untuk sementara roda pemerintahan dijalankan oleh seorang “wali” yang bernama Muhyddin yang merangkap sebagai Ruma Bicara. Rangkap jabatan akibat usia Sultan yang masih muda  sering membawa angin tidak segar bagi percaturan politik pemerintah di Bima pada masa selanjutnya.

Setelah menjalankan roda pemerintahan selama lebih kurang 46 tahun, Sultan Abdul Hamid kembali mnghadap Yang Maha Kuasa, tepatnya pada tanggal 1 Ramadhan 1234 H(lebih kurang Juni 1819 M). Dikebumikan di kompleks keluarga di halaman Masjid Istana Bima. Setelah mangkat diberi gelar “Mantau Asi Saninu” (yang memiliki Istana cermin). Abdul Hamid sadar, bahwa rakyat serta negeri yang dicintainya sedang dilanda berbagai tantangan, akibat politik de vide et empera Belanda pada masa pemerintahan ayahnya. Untuk mengatasi semua persoalan tersebut, Abdul Hamid harus berjuang keras. Hubungan dengan Makassar harus segera dipulihkan, pertahanan keamanan perlu ditingkatkan, perdagangan harus segera dibenahi seperti pada masa sebelumnya.

Diberi gelar Mantau Asi Saninu karena tinggal di Istana yang berhiaskan cermin. Abdul Hamid sangat lihai berdiplomasi dan berkorespondensi pada zamanya. Kumpulan surat-suratnya ada di negeri Belanda dan sudah diterbitkan dalam dua  buku masing – masing berjudul “ Iman Dan Diplomasi dan Alamat sultan “ (Henri Chambert – Loir, Massir Q Abdullah, Suryadi, Oman Faturahman dan Hj.Siti Maryam Salahuddin) .”. Salah satu surat penting Abdul Hamid adalah lukisan kejadian tentang Letusan Tambora kepada Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stampford Raffles di Surabaya pada tahun 1815. Abdul Hamid juga yang menciptakan Mahkota Kerajaan, Bendera dan lambang kesultanan Bima dengan Burung Garuda Berkepala Dua yang melambangkan perpaduan hukum adat dan hukum islam.Keberadaan Sultan Abdul Hamid di tengah-tengah rakyat masih diperlukan, tetapi rupanya takdir menginginkan lain. Di saat mereka menyambut gembira kedatangan 1 ramadhan tahun 1234 H (Juni 1819), bulan suci bagi umat Islam, hamba Allah yang berpredikat Sultan itu kembali ke alam baqa

Sultan Ismail Yang Bergelar Ma Wa’’a Alu ( 1819 – 1854 )

Ismail adalah putera tunggal dari Sultan Abdul Hamid, mempunyai saudara perempuan bernama Jamila Bumi Kaka. Lahir di Bima pada tanggal 1 Zulhijah 1211 H (lebih kurang tahun 1795 M). Ia menikah dengan puteri Muhammad Anwar (Ma Wa’a Kali), memperoleh seorang putera bernama Abdullah. Dengan permaisuri lain dianugerahi seorang puteri bernama Siti Aisyah Umi Salama.

Diberi gelar Ma Wa’a alu karena sifat dan pembawaannya sangat halus dan lembut. Masa pemerintahan Sultan Ismail, Bima berada dalam kekuasaan Inggris.Pada saat itu Sultan Ismail melakukan perbaikan ekonomi pasca meletusnya gunung Tambora. Sawah-sawa baru dicetak, menetapkan Ruhu-Ruhu yang terlantar yang menjadi tempat pengembalaan ternak, membuat tambak-tambak  dan empang, termasuk  yang dikenal dengan “Sarata”. Menyempurnakan angkatan bersenjata dengan memperkuat Armada Laut yang diberi nama “ Pabise “. Disamping bergelar Ma Wa’a Alu, Sultan Ismail juga diberi gelar Manuru Sigi atas jasa dan pengabdiannya dalam pembangunan mushalla dan masjid di seluruh wilayah kesultanan Bima. Pada tahun 1854, ketika Bima sedang ditekan oleh Belanda agar menerima segala tawaran yang dituangkan dalam setiap perjanjian, Sultan Ismail meninggalkan rakyat dan negeri yang dicintai untuk selama-lamanya. Jenazahnya dimakamkan keluarga di halaman Masjid Istana. Ia diberi gelar Ruma Ma Wa’a Alu (Sultan yang memiliki budi pekerti yang halus).

Sultan Abdullah Bergelar Ma Wa’a Adil ( 1854 – 1868)

Sultan Abdullah putera Sultan Ismail, dilahirkan di Bima pada tahun 1274 H (Tahun 1827 M), ketika ayahnya mendapat ancaman dan tekanan dari Belanda. Abdullah memiliki saudara perempuan bernama Aisyah Umi Salama. Abdullah menikah dengan Siti Saleha, puteri Lalu Cella Tureli Belo, dikaruniai dua putra masing-,masing bernama Abdul Azis dan Ibrahim.

Pada masa ini perekonomian kesultanan Bima menggembirakan. Tapi masalah yang dihadapi adalah usaha Belanda menguasai Kesultanan Bima dan pemaksaan untuk menandatangani kontrak dan perjanjian yang merugikan kesultanan Bima. Menghadapi Belanda Sultan Abdullah memodernisasi peralatan dan senjata yang diperoleh dari Inggris dan Portugis. Sultan Abdullah juga memprkuat dakwah di wilayah taklukan  seperti Manggarai, Sumba, Larantuka dan Sawu. Pada masa ini, secara mengejutkan Wazir Muhammad Ya’cub membubarkan Anggkatan Laut Bima “ Pabise “. Mengakibatkan lemahnya posisi kesultanan Bima di wilayah laut flores.Ketika sedang gigih berjuang melawan Belanda, pada tahun 1288 H (tahun 1868 M), Sultan Abdullah mangkat, Jenazahnya dimakamkan di halaman Masjid Istana di komplek Makam Keluarga. Setelah wafat diberi gelar”Ma Wa’a Adil” (Sultan yang arif bijaksana serta adil). 

Sultan Abdul Azis Bergelar Ma Wa’a Sampela ( 1868 – 1881 )

Abdul Azis putra sulung Sultan Abdullah, lahir di Bima pada tahun 1860 di saat Bima sedang mendapat  tekanan dan paksaan untuk menerima isi perjanjian yang sangat merugikan dari pihak penjajah Belanda. Abdul Azis mempunyai seorang adik yang bernama Ibrahim. Dua saudaranya putra Sultan Abdullah ini, kelak akan menerima amanah dari rakyat, untuk menjalankan roda pemerintahan Kesultanan Bima. Abdul Azis selama hayatnya tidak pernah menikah, karena itu dalam menjalankan tugasnya ia tidak pernah didampingi oleh seorang permaisuri seperti lajimnya seorang Sultan. Berhubung tidak mempunyai putra, maka setelah mangkat jabatan Sultan diamanahkan kepada adiknya Ibrahim.

Sebelum dilantik menjadi Sultan Bima menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat pada tahun 1288 H (tahun 1868 M), ia dilantik menjadi Jena Teke oleh Majelis Hadat Dana Mbojo. Setelah memegang tampuk pemerintahan kurang lebih 13 tahun, Ia mangkat tanpa menderita penyakit. Hal ini mengundang banyak tanda tanya di lingkungan istana. Jenazahnya dikebumikan di halaman Masjid Istana di kompleks makam keluarga. Sesuai dengan statusnya yang masih membujang maka oleh rakyat diberi gelar “ Ruma Ma Wa’a ampela” (Sultan yang wafat dalam keadaan bujang).

Pada masa ini, hubungan Bima dengan Belanda seperti Api dalam sekam. Belanda terus berusaha memaksa Sultan untuk menandatangani perjanjian dan kontrak. Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan majelis Adat dan pejabat kerajaan. Ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Sehingga lahirlah kelompok “ Ma Kalosa Weki “ ( Kelompok yang keluar dari Istana) seperti Wazir (Perdana Menteri Ahmad Daeng Manasa). Sikap Perdana Menteri ini disambut  positif oleh para bangsawan dan tokoh masyarakat. Kelompok inilah yang kemudian mempelopori Perang Rakyat seperti perang Ngali (1908-1909),Perang Kala (1908) Perang Rasa Nggaro(1910), Dan Perang Dena (1910). Sultan Abdul Azis meninggal di usia bujang secara misterius sehingga diberi gelar Ma Wa’a Sampela. 

Sultan Ibrahim Bergelar Ma Wa’a Taho Parange ( 1881 – 1915  )

Ibrahim dilahirkan di Bima pada 3 Syawal 1282 H (tahun 1862 M), adik dari Sultan Abdul Azis Ibnu Sultan Abdullah. Setelah dewasa menikah dengan Siti Fatimah puteri Lalu Yusuf Ruma Tua Sakuru. Sesudah permaisurunya wafat,ia menikah lagi dengan adik iparnya yang bernama Siti Aminah. Selain itu Sultan Ibrahim mempunyai permaisuri yang berasal dari bangsawan tinggi Makassar bernama Karaeng Bonto Ramba, putri dari Karaeng Mandale. Sultan Ibrahim pernah menikah lagi dengan gadis lain, sesudah salah satu istrinya wafat. Dari semua istrinya, Sultan Ibrahim dianugerahi 12 orang anak. Salah seorang diantaranya adalah Muhammad Salahuddin, yang kelak akan diberi mandat  untuk menjadi Sultan Bima XIV, menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat pada tahun 1915 M. Sultan Ibrahim aadalah adik Sultan Abdul Azis. Pelantikannya tidak direstui Belanda. Pemerintah Hindia Belanda di Makassar memaksa Sultan Ibrahim untuk menyerahkan daerah-daerah taklukan. Pada tahun 1905 Belanda memaksa Sultan Ibrahim menyerahkan Tanah Manggarai. Tahun 1906 Belanda memaksa Sultan pergi ke Batavia untuk menandatangani “ Longe Kontrak “ ( Kontrak Politik Panjang). Tindakan Belanda yang memaksa Sultan Ibrahim menimbulkan kemarahan rakyat. Belanda mencampuri urusan dalam negeri Bima dengan merombak struktur Pemerintahan. Belanda membubarkan Sara Hukum yang selama berabad-abad dibawa pimpinan seorang Imam (Qadi) yang berfungsi sebagai pelaksana dan pengadilan Syariat Islam. Di bidang perdagangan Belanda menerapkan sistim monopoli dan Karangga Wari ( Merampas Harta Benda Rakyat). Sultan dianggap berpihak kepada Belanda, maka timbullah perang rakyat.

Perang Rakyat bisa dipadamkan meski kelompok-kelompok Ma kalosa Weki masih tetap ada. Sultan bersama Wazir Muhammad Qurais melakukan konsolidasi dengan melakukan pendekatan kembali dengan para tokoh masyarakat dan ulama. Sultan kembali mendirikan Sara Hukum dengan nama Majelis Syari’ah sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Masjid dan Mushalla diperbanyak di seluruh desa, meningkatkan kembali kegiatan dakwah. Dana untuk hal itu diambil dari Dana Molu (Tanah Maulid) dan Dana Ngaji Kai ( Tanah Ngaji),Sultan juga mendirikan rumah waqaf di Makkah dengan biaya 3.500 Ringgit untuk menampung Jammah Haji asal Bima.

Sultan Ibrahim juga punya jasa besar dalam upaya penyelamatan binatang langka Komodo. Dalam salinan Terjemahan/Aliaksara Naskah Sultan Bima : DR Hj. Sitti.  Maryam M. Salahuddin,  SH. Membaca arsip dari Residen  Timor dan Daerah  Takluknya tertanggal 30 Desember  1914 No. 4031/40, dapat diuraikan bahwa sejak Raja dan para Sultan Bima menjalin hubungan dan memiliki kekuasaan di Manggarai, Sultan Bima telah menerbitkan UU perlindungan terhadap hewan purba tersebut. Dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan tentu saja tujuan serta kegunaan serta nilai lebih pada pemeliharaan dan penjagaan kelangsungan hidup hewan tersebut, Sultan sadar betul bahwa komodo merupakan hewan langka dan wajib hukumnya untuk dijaga kelestarianya.Dalam naskah tersebut Sultan Ibrahim memerintahkan kepada semua masyarakat yang berada sama dengan komunitas komodo membiarkan hewan tersebut hidup secara bebas dan melarang memburu apalagi merusak sarang dan semua tindakan yang akan mengancam kelangsungan habitat komodo. Seperti yang tertulis dalam pasal 3 menyatakan:

Menangkap  atau membunuh  binatang  tersebut dalam pasal 1″, yang berada di atas atau di dalam  rumah atau di atas pekarangan  rumah yang bersangkutan maupun  tempat-tempat  tertuntup, terhadap penghuni rumah dan pengguna  tanah dan pihak ketiga dengan  persetujuannya  dibebaskan. Pengecualian  yang sama berlaku untuk mengambil, merusak atau mengganggu  sarang-sarang  binatang yang ada disana” 
Sultan Ibrahim wafat pada tahun 1915 dan dimakamkan di kompleks makam kesultanan Bima di sebelah barat Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.
 
Sultan Muhammad Salahuddin Bergelar Ma Kakidi Agama ( 1915- 1951)

Muhammad Salahuddin adalah tokoh yang memegang peran utama dalam perkembagan sejarah Bima pada awal abad XX . Salahuddin adalah salah seorang putra Sultan Ibrahim (Sultan XIII) dengan permaisurinya Siti Fatimah Binti Lalu Yusuf Ruma Sakuru. Lahir di Bima Pada tanggal 15 Zulhijah 1306 H (14 Juli 1889), memiliki 11 orang saudara. Tiga saudara seayah seibu masing-masing bernama Abdullah (Ruma Haji), Abdul Qadim (Ruma Siso) dan Nazaruddin (Ruma Uwi), Saudara seayah terdiri dari Siti Hafsah, Abdul Azis, Sirajuddin (Ruma Lo), ibunda ketiganya bernama Siti Aminah. Kemudian Siti Aminah (Ruma Gowa) ibundanya Karaeng Bonto Ramba putri Karaeng Mandalle, Siti Aisyah (ibundannya bernama Baena), Lala Ncandi (ibunya bernama Aisyah), Ahmad (ibundanya bernama Sakinah) dan La Muhammad (ibunya bernama Hamidah).

Muhammad Salahuddin menikah dengan Siti Maryam Binti Muhammad Qurais, kemudian menikah lagi dengan Siti Aisyah, putri Sultan Muhammad Sirajuddin (Sultan Dompu). Dengan permaisurinya Siti Maryam Binti Muhammad Qurais, Salahuddin memperoleh lima orang putri yaitu Siti Fatimah, Siti Aisyah,Siti Hadijah, Siti Kalisom dan Siti Saleha. Dari pernikahannya dengan Siti Aisyah putri Sultan Dompu, memperoleh seorang putra  bernama Abdul Kahir (Sultan Abdul Kahir II), Siti Maryam (Ruma Mari), Siti Halimah (Ruma Emi) dan Siti Jahara (Ruma Joha).

Sultan Muhammad Salahuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima ke-14 pada tahun 1915. Muhammad salahuddin adalah sultan yang berpemikiran maju. Salahuddin memimpin Kesultanan Bima pada saat Indonesia sedang berjuang melawan penjajah dan masa pergerakan kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Hal itulah yang mempengaruhi sudut pandang Salahuddin dalam garis perjuangan menghadapi Belanda. Bagi salahuddin menghadapi penjajah tidak hanya cukup dengan kekuatan senjata. Pendidikan dan organisasi pergerakan adalah media yang ampuh menghadapi Belanda. Meski perang berkecamuk dimana-mana, Salahuddin tetap konsisten membangun pendidikan modern  HIS di Raba tahun 1921, menfasilitasi berdirinya organisasi pergerakan dan politik di Bima. Sekolah-sekolah agama didirikan berbarengan dengan sekolah-sekolah umum pada tahun 1934 bernama Darul Ulum Bima. Guru-guru didatangkan dari Jawa dan Sumatera. Bea siswa diberikan kepada putra puteri  terbaik daerah dan mendirikan asrama-asrama Bima di kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Sultan yang dijuluki “ Ma Kakidi Agama “ ( Yang menegakkan Agama) itu juga menulis Buku “ Nurul Mubin” yang dicetak penerbit Syamsiah solo dan dicetak kedua kalinya terbit pada tahun 1942. Salahuddin sangat dekat dengan Bung Karno. Hal ini dibuktikan dengan 2 kali kunjungan Bung Karno di Bima yaitu pada saat pulang dari pembuangan di Ende dan pada tahun 1950.

Jiwa Nasionalis Salahuddin dibuktikan dengan dikeluarkannya Maklumat 22 Nopember 1945 yang salah satu isinya adalah “ Pemerintah Kerajaan Bima adalah Bagian dari Negara Kesatuan Rapublik Indonesia “. Maklumat ini adalah sinyal bahwa Kesultanan Bima harus tunduk pada NKRI. Pada Pidato penerimaan kunjungan Bung Karno di Istana Bima, Salahuddin mengemukakan ““ Paduka yang mulia, rindu yang meluas ini bukan baru sekarang saja timbulnya, akan tetapi sejak ledakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pada saat ketika mana terbayanglah di muka kami rakyat disini wajah bapak-bapak pemimpin kita Bung Karno dan Bung Hatta yang sedang memproklamirkan kemerdekaan indonesia, lalu pada saat itu juga tertanamlah dalam jiwa rakyat disini arti proklamasi yang harus dijunjung tinggi, harus dipertahankan dan harus dimiliki itu, sehingga pada tanggal 22 Nopember 1945, kami di kesultanan Bima ini mengeluarkan peryataan bahwa daerah kesultanan Bima menjadi daerah istimewa yang langsung berdiri di belakang Republik indoenesia.”(Dikutip dari Buku Profil Raja dan Sultan Bima, M.Hilir Ismail dan Alan Malingi, hal 56 )

Sultan Salahuddin Wafat di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1951. Jenajahnya dibungkus Kain Merah Putih dan disemayamkan di Gedung Proklamasi atas perintah Bung Karno. Atas permintaan keluarga jenajahnya di makamkan di Pemakaman Karet Jakarta.    

Sultan Abdul Kahir II Bergelar Ma Busi Ro Mawo (1945-2001)

Abdul Kahir II adalah putera dari Sultan Muhammad Salahuddin. Selama hidupnya belum dilantik menjadi Sultan dan menyandang Gelar sebagai Jena Teke (Putera Mahkota ) sejak dilantik pada tanggal 13  November 1945 sewaktu Sultan Salahuddin masih hidup. Jabatan sultan diberikan oleh Majelis Adat Dana Mbojo setelah wafat pada 5 Mei 2001.

Masa Abdul Kahir adalah masa transisi dimana Kesultanan Bima berubah menjadi bagian dari NKRI sejak maklumat 22 Nopember 1945 dan wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951. Bima menjadi daerah Swapraja, Swatantra kemudian menjadi Daerah Dati II Kabupaten Bima sesuai amanat Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Propinsi Bali, NTB dan NTT.

Semasa hidupnya Abdul Kahir pernah menjadi Komandan Peta, komandan TKR dan BKR. Sejak tahun 1953 sampai dengan tahun 1987, sultan Abdul Kahir II berperan sebagai pengyelenggara negara, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif. Di lembaga eksekutif menduduki berbagai jabatan, seperti patih, Bupati kepala daerah Tingkat II Bima, kemudian memegang jabatan kepala Biro pemerintahan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat dan  mengabdi di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta.

Selain itu, Abdul Kahir juga pernah menjadi anggota DPRD Bima, kemudian menjadi anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan yang terakhir dipercayakan oleh rakyat Nusa Tenggara Barat untuk menjadi wakil mereka di DPR RI.

Sultan H.Ferry Zulkarnain, ST ( 4 Juli – 23 Desember 2013 )

Prosesi penobatan Sultan Bima ke-16  Ferry Zulkarnaian
Ferry Zulkarnain lahir di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1964. Putera pertama dari Sultan Abdul Kahir II dan permaisuri Hj. Retno Murti Zubaidah. Ferry mengenyam pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi di luar Bima. Sosok yang murah senyum ini menempuh pendidikan sekolah dasar di Mataram, sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP hingga perguruan Tinggi di Jakarta. Pada usia 31 tahun, Ferry mempersuntik Indah Dhamayanti Puteri dan dikaruniai 2 orang putera yaitu Muhammad Putera Ferryandi dan Muhammad Putera Pratama yang lahir setahun sebelum Ferry menghadap Sang Khalik.

Disamping berprofesi sebagai kontraktor, Ferry juga masuk di pentas politik lewat partai Golongan Karya. Pada pemilu tahun 1997, Ferry menjadi anggota DPRD Kabupaten Bima hingga tahun 1999. Karena era reformasi, dilaksanakan lagi pemilihan umum pada tahun 1999. Ferry kembali menjadi legislator dan menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Bima hingga tahun 2003. Sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2002, Ferry dan para wakil rakyat dari daerah pemilihan Rasanae hijrah mengisi keanggotaan DPRD Kota Bima dan menjadi Ketua DPRD kota Bima.

Pada saat menjadi ketua DPRD Kota Bima, Ferry mencalonkan diri menjadi Bupati Bima berpasangan dengan Drs.H.Usman AK. Ferry pun menjadi Bupati Bima masa bhakti 2005-2010. Pada periode kedua, 2010-2015, sang ajal menjemput dan Ferry wafat pada tanggal 23 Desember 2013. Ferry Zulkarnain dinobatkan sebagai Jena Teke Kesultanan Bima pada tahun 2002 dan di  tuha ra lanti (penobatan) menjadi sultan Bima ke-16  pada tanggal 4 Juli 2013. Masa kepemimpinan Ferry sama dengan masa kepemimpinan Abdul Kahir. Keduanya memegang rekor masa jabatan sultan terpendek. Abdul Kahir I dilantik 5 Juli 1640 M dan wafat pada tanggal 22 Desember 1640 M. Ferry Zulkarnain dilantik pada 4 Juli 2013 dan wafat pada tanggal 23 Desember 2013.

Penulis : Alan Malingi

Sumber :
Sejarah Bima Dana Mbojo, Abdullah Tayib, BA
Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara, M.Hilir Ismail
Kebangkitan Islam Di Dana Mbojo, N. Hilir Ismail
Profil Raja Dan Sultan Bima, M.Hilir Ismail & Alan Malingi
Chambert Loir Henry, Syair Kerajaan Bima, Lembaga Pendidikan Prancis Untuk Timur Jauh (EFEO), Jakarta 1982.
Chambert Loir Henry, Sitti Maryam R. Muhammad Salahuddin,” Bo Sangaji Kai”, Yayasan Obor, Jakarta, 1999.
Abdul Gani Abdullah, Badan Hukum Syara Kesultanan Bima, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Ahmad Amin, Sejarah Bima “Sejarah Pemerintahan Serba – Serbi Kebudayaan Bima”’ (Stensil) 1971.
Muslimin Hamzah, Ensiklopedia Bima, 2004
www.alanmalingi.wordpress.com









Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.