f Tragedi Doro Cumpu - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Tragedi Doro Cumpu

Makam Rato Waro Bewi Di Doro Cumpu
Doro Cumpu adalah nama sebuah gugusan pegunungan yang berada di desa Bala kecamatan Wera Kabupaten Bima. Doro Cumpu adalah saksi sejarah perjuangan islamisasi di tanah Bima pada abad ke-17 M. Nama Doro Cumpu dan Bala justru terilhami dari tragedi berdarah perebutan kekuasaan dan islamisasi tersebut. Cumpu berarti penghabisan.Jadi pertempuran di Doro Cumpu adalah pertempuran sampai titik darah penghabisan. Sedangkan Bala berarti memasuki pagi hari atau yang dikenal dengan Bala Ai. Bukti dari tragedi itu adalah sebaran makam di pegunungan Cumpu. Di sini telah terbaring dengan tenang Sang Bumi Renda ( Panglima Perang) Rato Waro Bewi yang gugur menyelematkan putera Mahkota La Ka’i dari gempuran serangan pasukan Raja Salisi yang dibantu Belanda.

Putera Mahkota La Ka’i adalah penghalang bagi Salisi untuk melanggengkan kekuasaan. Pengikut La Ka’i dipimpin oleh Bumi Renda Rato Waro Bewi dan rakyat yang setia kepada pewaris tahta sah kerajaan Bima. Salisi mengejar La Ka’i dan pengikutnya. Putera Mahkota itu mengungsi  ke Teke hingga ke Kalodu. Kemelut politik di kerajaan Bima diketahui oleh Sultan Gowa Karaeng Matowaja dan dikirmlah ekspedisi militer I pada tahun 1613 M. Ekspedisi ini dipimpin oleh Karaeng Baro Anging ( Maro Anging). Ekspedisi ini dapat dikalahkan pasukan Salisi dengan mudah. Pasukan Gowa mundur dari Bima.

Masjid Kalodu 
Tidak berselang lama, ekspedisi kedua dikirim lagi ke Bima hingga  tahun 1623 M dipimpin oleh Karaeng Karu Suli. Selama ekspedisi itu, para mubaliq berhasil mempengaruhi La Ka’i dan pengikutnya untuk memeluk agama Islam. Maka pada tanggal 15 Rabiul Awal 1030 H yang bertepatan dengan 7 Februari 1621 M, La Ka’i bersama pengikutnya mengucapkan dua kalimat syahadat di Raba Parapi Sape dan dikukuhkan dengan sumpah yang dikenal dengan “ Sumpa Parapi”. Mereka mengiris jari masing-masing dan meminum darahnya sebagai tanda setia kepada islam dan perjuangan suci mengislamkan tanah Bima.

Berbekal semangat Sumpa Parapi, Abdul Kahir bersama rakyat yang telah memeluk islam dan lasykar Gowa bertempur menghadapi pasukan Salisi yang cukup tangguh. Menurut M.Hilir Ismail, kekalahan lasykar Gowa bukan saja karena ketangguhan lasykar Salisi, tetapi karena kondisi dan topografi wilayah Bima yang berbukit-bukit menyulitkan pergerakan lasykar Gowa.Sementara pasukan Salisi telah menguasai segala medan dan kondisi alam Bima.

Makam Jalaluddin Di kompleks Dana Taraha

Korban berjatuhan baik dari lasykar Gowa maupun Bima. Lasykar Gowa memutuskan untuk kembali ke Makassar. Pasukan La Ka’i dan Lasykar Gowa telah terkepung dari berbagai arah oleh pasukan Salisi di bawah pimpinan Bumi Luma Rasanae dan pasukan Belanda. La Ka’i bersama tiga saudaranya yaitu Manuru Bata( Sirajuddin) La Mbila( Jalaluddin) dan Bumi Jara( Awaluddin) memutuskan  mundur dari peperangan untuk menyusun kekuatan di Gowa. Rute mundur itu adalah dari Sape, Nanga Kanda, dan Sangiang. Di pulau Sangiang sudah disiapkan  perahu-perahu yang akan membawa mereka ke Gowa. Untuk menahan laju pasukan Salisi, maka ditugaskanlah panglima perang Rato Waro Bewi. Dalam hal ini BO menulis sebagai berikut.

“ Adapun Rato Waro Bewi memerangi orang yang mengejar, wafatlah ia, tetapi orang yang mengejar tiada mendapati Raja berempat. “  

Tugas Rato Waro Bewi harus dibayar mahal. Ketika La Ka’i dan lasykar Gowa memasuki pelabuhan Nanga Kanda Wera, pasukan Salisi dengan kekuatan penuh  terus melakukan pengejaran. Untuk menahan laju serangan itu, Rato Waro Bewi bersama rakyat Wera menghadang pasukan Salisi. Pertempuran terjadi selama beberapa hari lamanya. Di Doro Cumpu, pasukan Rato Waro Bewi terus mengalami tekanan. Korban berjatuhan. Pasukan Rato Waro Bewi mulai melemah. Sang Panglima perang memerintahkan orang-orang Wera membawa putera Mahkota ke Sangiang daratan. Dengan gagah berani ia menghadang pasukan Salisi dengan sisa pasukannya. Sepanjang malam, peperangan itu terus berkobar. Hingga bala ai( hari memasuki pagi) Sang Panglima pun tewas.

Lasykar Salisi kecewa karena pertempuran itu tidak menewaskan Putera Mahkota La Ka’i. Rakyat Wera membantu menyediakan perahu di Sangiang daratan menuju Pulau Sangiang. Atas jasa orang-orang Wera, Putera Mahkota La Ka’i langsung mengeluarkan pernyataan bahwa orang Wera adalah “ Saudara”. Pernyataan itu dikenal dalam sejarah Bima dengan istilah “ Perjanjian Dengan Orang Wera.”

Sangiang Darat dan Pulau Sangiang 
Setelah beberapa hari berada di pulau Sangiang, rombongan La Ka’i dijemput perahu menuju Gowa. Setibanya di Gowa La Ka’i dijemput oleh Raja Tallo dan Bicara Gowa, kemudian menghadap Sultan Gowa. La Ka’i dan tiga saudaranya dibina di lingkungan istana kerajaan Gowa. Mereka mempelajari ilmu pemerintahan dan ilmu agama di bawah bimbingan ulama besar Datu Ri Bandang dan Datu Ri Tiro. La Mbila (Jalaluddin) secara khusus mempelajari ilmu perang kepada Karaeng Bontonompo, panglima perang kerajaan Gowa sebagai pengganti Rato Waro Bewi.

Makam Sultan  Abdul Khair Sirajuddin di Kompleks Makam Tolobali Bima
Di dalam lingkungan Istana Gowa, Abdul Kahir jatuh cinta kepada Daeng Sikontu. Adik dari permaisuri Sultan Alauddin. Pada bulan ramadhan tahun 1038 H atau bertepatan dengan bulan April 1627 M lahirlah putera pertamanya I Ambela (putera kecil)  dengan nama topeng Areng dondo-dondo dengan nama asli Abdul Khair Srijajuddin yang kelak menjadi Sultan Bima ke-2.
Tahun 1630 M, rencana ekspedisi ke III gagal. Kerajaan Gowa berduka.Sultan Karaeng Matowaja(Sultan Alauddin) meninggal dunia dan diberi gelar anumerta Tumenanga ri Agamanna. Tahta kerajaan Gowa dilanjutkan oleh puteranya Karaeng Kalakiung dengan gelar Sultan Muhammad Said yang juga disebut Sultan Malikussaid. Dengan semangat  membara, Sultan Malikussaid menyusun kekuatan gabungan Gowa, Tallo dan Bone dan Bima. Kekuatan gabungan ini dipimpin oleh Karaeng Karrisuli dibantu Datu Patiro Bone dan Lasykar Bima dipimpin oleh Jalaluddin. Sebanyak 20 perahu besar dan 10 perahu perbekalan dan senjata tiba dengan selamat di Bima pada bulan Mei 1640 M.

Peperangan berkecamuk selama tiga bulan. Korban pun berjatuhan.Ekspedisi ke-III berhasil. Lasykar gabungan yang dipimpin Datu Patiro Bone berhasil mengalahkan pasukan Salisi. Jalaluddin dan pasukannya merebut dan menguasai Istana Bima. Salisi terus dipukul mundur dan keluar dari Istana. Manuru Bata( Sirajuddin) dan pasukannya terus mengejar Salisi dan membiarkan terlantar bersama sisa pasukan di Mata sebelah selatan Dompu.

Makam Sultan Abdul Kahir I Di Dana Taraha 
Kemenangan itu disampaikan kepada Sultan Gowa Malikussaid dan Jena Teke Abdul Kahir di Makassar. Maka Abdul Kahir I berlayar ke Bima bersama Bumi Jara La Mbila dengan dua orang gurunya Datu Ri Bandang dan Datu Ri Tiro. Pada tanggal 15 Rabiul Awal bertepatan dengan 5 Juli 1640 M, Abdul Kahir I dinobatkan menjadi Sultan Bima pertama dengan gelar Rumata Ma Bata Wadu. La Mbila Jalaluddin memayungkan payung kerajaan dan menyelipkan keris Samparaja kepada Abdul Kahir. Maka berakhirlah kemelut politik kerajaan Bima yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun itu. Bima menjadi Negara Islam yang terus memainkan peranan penting di belahan nusantara dan dunia selama lebih dari tiga abad.   

Penulis : Alan Malingi
Sumber :
1.    
     - Sejarah Bima Dana Mbojo, H. Abdullah Tayib, BA
2.   -    Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara, M.Hilir Ismail.  
3.    -    Kebangkitan Islam Di Dana Mbojo (1540 – 1950) M. Hilir Ismail.



             

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.