f Antara Sastra Dan Tari - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Antara Sastra Dan Tari

Penampilan penari Sanggar Tolo Loa 
Penampilan yang cukup memukau dari Sanggar seni Tololoa kecamatan Bolo kabupaten Bima menyambut kehadiran Kru Makembo dalam rangka kegiatan rutin pemetaan kesenian Mbojo pada tanggal 23 Juli 2016. Sanggar seni binaan Ahmad H. Abdullah, S.Pd atau yang dikenal dengan Guru Hima ini memang spesialis menampilkan kreasi dan kolaborasi seni sastra dan tarian yang digali dari cerita rakyat,pantun dan syair. Dalam penampilannya, Tololoa yang bermarkas di desa Kananga kecamatan Bolo ini menampilkan tarian kreasi yang diselingi dengan senandung senandung seperti Lopi Penge, Pasole, Muna ro medi serta satu persembahan ensambel musik dengan syair lagu patu cambe angi atau berbalas pantun yang berirama atau ntoko Dalli.

Bersama penari dan penabuh Sanggar Tolo Loa 
Tarian yang digarap sesuai dengan syair lagu atau lagus yang dicipta sesuai dengan gerakan Tari memang saat ini sedang trend. Penonton tidak hanya disuguhkan dengan tarian, tetapi juga gerakan gemulai penarinya. Inilah perpaduan antara seni sastra dan seni tari. Penampilan sebuah tarian dan lagu akan lebih menarik jika menggambarkan sebuah peristiwa sejarah maupun cerita rakyat sebagai tradisi tutur masyarakat selama berabad-abad lamanya.

Kru Makembo bersama penari Sanggar Tolo Loa 
Salah satunya adalah tari Lopi Penge yang mengisahkan hubungan asmara antara puteri raja Bima dengan putera mahkota Raja Gowa. Lopi adalah perahu atau biduk. Sedangkan Penge ibarat seseorang yang kangen dan rindu. Jadi Lopi penge adalah biduk yang selalu rindu. Menurut Ahmad H.Abdullah S.Pd, Pembina Sanggar Tolo Loa kecamatan Bolo Kabupaten Bima, bahwa konon kisahnya di masa lalu, putera mahkota Raja Gowa jatuh cinta kepada puteri Raja Bima. Tetapi puteri raja Bima tidak mau, maka Putera Mahkota Raja Gowa itu pun bersenandung hingga puteri Raja Bima kesurupan dan jatuh cinta pada putera mahkota itu. Fersi lain sesuai buku Lopi Penge yang ditulis Alan Malingi, puteri Raja Bima dan putera mahkota Raja Gowa saling jatuh cinta. Putera Mahkota Gowa sering sekali berlayar ke Bima. Hal itu kurang disenangi oleh puteri Raja Bima karena sering mengunjunginya. Akhirnya diperintahkanlah para dayang istana Bima menemui putera mahkota itu di pelabuhan Bima. Lalu parang dayang itu melantunkan senandung Lopi Penge.

Lewat senandung itu, putera Mahkota Raja Gowa memahami dan tidak lagi sering berlayar ke Bima hingga mereka pun melaksanakan pernikahan. Senandung Lopi Penge akhirnya menjadi senandung penyembuh bagi anak-anak yang mengalami penyakit cacar air. Dalam bahasa Bima, penyakit ini dikenal dengan Karena, Kawaro dan Kaboti.

Penulis : Alan Malingi


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.