f Mpa’a Sumbawa - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Mpa’a Sumbawa

Sumber Foto : Fahru Rizki KITLV Leiden 
Hubungan kekeluargaan dan kekerabatan antara Kerajaan Bima dan Sumbawa telah terjalin sejak lama. Sultan Abdul Hamid Mantau Asi Saninu (1773-1819) menikah dengan dua orang  puteri Sultan Harunalrassyid Sumbawa yaitu Sultanah Shafiatuddin dan Datu Sagiri. Sebenarnya proses kawin mawin itu telah berlangsung lama dan di akhir episode kesultanan Bima dan Sumbawa, Siti Khadijah, puteri Sultan Muhammad Salahudddin menikah dengan Sultan Kaharuddin III pada tahun 1930.

Jejak hubungan kekeluargaan itu terurai indah melalui tarian klasik Istana Sumbawa yang dibawa oleh Sultanah Shafiatuddin ke Bima ketika menjadi permaisuri Sultan Abdul Hamid. Di Bima, tarian klasik ini kemudian diberinama Mpa’a Sumbawa. Kerabat Kesultanan Sumbawa, Daeng Hasanuddin dalam komentarnya di akun Facebook Fahru Rizki yang memposting tarian klasik ini mengemukakan, tari klassik yg udah berusia ratusan tahun ini terakhir masih ditarikan bersama antara puteri-puteri bangsawan Bima dan Sumbawa pada upacara adat khitanan Putri Sultan Sumbawa Daeng Nindo dan Daeng Ewan. “ Gerakannya sangat lembut dan statis. Masih tersisa inang penarinya di Cenggu Bima. Saya sudah pelajari dan sudah saya garap dalam bentuk karya klasik berjudul Intan Kalanis. “ Ujar Budayawan Sumbawa yang akrab disapa Pak Ache ini.

Istilah Mpa'a adalah untuk menyebutkan tarian-tarian dalam bahasa Bima. Kadang juga disebut dengan Dewa atau Toja. Istilah Dewa diperkenalkan saat penyambutan Raja Indra Zamrut ke istana Ncuhi Dara. disepanjang pantai Ama Hami hingga Oi Niu disebut dengan nama Dewa Sepi. Hal itu merujuk pada penyambutan Raja Indra Zamrut dengan Dewa atau tarian. Sepi adalah sejenis udang rebon yang ukurannya kecil-kecil dan banyak jumlahnya. Karena banyaknya orang yang menyambut kedatangan Indra Zamrut,maka diistilahkanlah dengan Sepi. 

Gerakan Mpa'a Sumbawa sangat mirip dengan tarian atau Mpa'a Lenggo, Katubu, Rombo To'i dan Karaenta dalam tarian klasik istana Bima. Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin adalah penari klasik Istana dan pernah tampil di Istana Sumbawa pada acara khitanan putera dan puteri Sultan Kaharuddin III. 

Dalam postingannya, facebooker dan peneliti sejarah Bima Fahru Rizki mengatakan bahwa foto tersebut diambil pada tahun 1880. “Para penari sumbawa tahun 1880-an. Sumber foto adalah KITLV Leiden.  de vrouwen dansers van sumbawa circa 1880.” Demikian disebutkan Fahru Rizki di akun facebooknya pada kamis malam 21 Juli 2016.

Penulis : Alan Malingi 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.