f Upacara Peta Kapanca - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Upacara Peta Kapanca


Upacara  Peta Kapanca adalah salah satu bagian dari prosesi perkawinan Adat Bima. Biasanya upacara ini dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan. Peta Kapanca adalah melumatkan Daun pacar(Inai) pada kuku calon pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita. Pada zaman dahulu, setelah pengantin wanita tiba di UMA RUKA (Rumah Mahligai atau Peraduan) upacara ini dilaksanakan. Tujuh orang ibu secara bergiliran meletakan lumatan daun pacar pada telapak kaki dan tangannya. Lalu muncullah warna merah sebagai tanda bahwa  dia akan menjadi milik orang.

Apakah makna dari Upacara ini ? Kapanca merupakan peringatan bagi calon pengantin wanita bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga atau istri. Disamping itu, Kapanca dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para gadis lainnya agar mengikuti jejak calon penganten wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ratu yang akan mengakhiri masa lajangnya sehingga mereka dapat mengambil hikmah. Upacara ini telah lama menjadi dambaan ibu-ibu dalam masyarakat Bima. Karena mereka juga mengharapkan putri-putrinya segera melewati upacara yang sama dalam menandai hari bahagia mereka.

Dalam upacara ini juga disuguhkan Ziki Kapanca (Zikir Kapanca) yang dilantunkan oleh Ibu-ibu yang hadir. Hal ini terkadung maksud sebagai sebuah pengharapan kiranya kelak calon pengantin ini dapat mengayuh bahtera cinta menuju pantai bahagia.  Syair ziki kapanca bernuansa Islam yang liriknya mengandung pujian kepada Allah SWT dan Rasul. Usai acara Kapanca biasanya diisi oleh hiburan rakyat seperti gentaong dan Rawa Mbojo yang digelar semalam suntuk.

Upacara Peta Kapanca juga dilaksanakan dalam prosesi Khitanan untuk anak-anak puteri. Pada malam hari sebelum dilaksanakan khitanan dilangsungkan pula upacara ini yang dilakukan oleh ibu-ibu pemuka adat. Sementara anak-anak yang akan dikhitan duduk berjejer menanti lumatan daun pacar(Inai) dari para ibu secara bergiliran.
Menurut Muslimin Hamzah dalam Bukunya “ Ensiklopedia Bima “ bahwa dalam tradisi Bima, upacara memegang peranan menentukan. Upacara sudah mentradisi sejak Bima kuno terutama mewarisi tradisi Hindu di masa lampau. Ketika Islam menjadi agama kerajaan, upacara menjadi alat dakwah. Seperti upacara Adat Hanta U’A Pua.

Penulis : Alan Malingi

Sumber :

1. Upacara Daur Hidup Masyarakat Bima, Alan Malingi

2. Ensiklpedia Bima, Muslimin Hamzah
1.  

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.