f Bima Di Mata Seorang Kelana - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Bima Di Mata Seorang Kelana

Foto : Febriyanpratama blogspot.com 
Bima adalah tanah tua yang telah banyak direkam dan dicatat oleh berbagai literature sejarah dunia. Keberadaan Situs Wadu Pa’a yang berangka tahun 631 Saka atau 709 Masehi  membuktikan bahwa Bima telah banyak disinggahi oleh berbagai musafir dan menjadi penghubung perniagaan dari Malaka ke Maluku. Kitab Pararaton dan Negerakertagama juga telah menuliskan nama daerah ini. Bima berada di tengah jalur maritim yang melintasi kepulauan Indonesia.Pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar Abad 10. Waktu orang Portugis mulai menjelajahi kepulauan nusantara, Bima telah menjadi pusat perdagangan yang berarti. ( Henry Chambert Loir & Siti Maryam R. Salahuddin, BO Sangaji Kai, XV).

Tome Pires, seorang kelana asal Portugis memiliki catatan penting tentang Bima pada dekade kedua abad ke-16. Dia menulis laporan tentang peluang ekonomi dan perdagangan kepada Raja Emanuel. Laporan tersebut terdiri dari enam jilid yang mengisahkan perjalanannya dari Mesir hingga Malabar, Indocina, Bengali, Jepang, Cina, hingga Indonesia. Perjalanan Tome Pires dimulai pada tahun 1512 hingga 1515.Laporan tersebut diterbitkan pada tahun 1944 oleh Armando Z. Cortesão dengan judul  Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ("Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina").

Tome Pires singgah di Bima pada tahun 1513. Dia menyebut Bima dengan nama Pulau Bima. Dalam laporannya menyebut Pulau Bima dipimpin oleh raja kafir. Pires menyebut Bima memiliki banyak perahu, bahan makanan, daging, ikan, asam dan banyak terdapat kayu Sapang yang dibawa ke Maluku dan Malaka untuk dijual di Cina karena harga kayu Sapang di Cina relatif murah.Kayu Sapang asal Bima tipis dan ringan dibanding kayu Sapang asal Siam (Thailand) yang tebal dan lebih bermutu. “ Bima juga memiliki banyak budak dan banyak kuda yang dibawanya ke Jawa. Perdagangan di pulau itu ramai.Orangnya hitam berambut lurus. Terdapat banyak dusun, banyak orang dan banyak hutan. Orang yang berlayar ke Banda dan Maluku singgah di situ dan membeli berbagai jenis kain, yang kemudian dijualnya di Banda dan Maluku. Pulau ini juga mempunyai sedikit emas. Mata uang Jawa berlaku di situ “ ( Cortesao,1 : 203).

Tidak hanya itu, Tome Pires juga menguraikan keuletan, keberanian dan tehnik dagang orang-orang Bima kala itu. Orang Bima nekad berdagang dengan modal kecil dan menggunakan awak perahu dari budak. Mereka memanjangkan pelayarannya supaya mendapatkan untung banyak dari Malaka. “ Mereka membeli barang lain untuk dijual di Bima dan Sumbawa, dan di situ mereka membeli berbagai kain untuk dijual di Banda dan Maluku sebagai tambahan dari barang-barang Malaka yang tersisa” (Ibid :221).

Tome Pires tidak hanya menulis tentang teluk Bima dan pelabuhan Bima. Dia juga mengulas tentang posisi strategis Pulau dan gunung Sangiang yang menjadi tempat perdagangan budak dan pasar para bajak laut. “ Pulau Sangiang banyak pelabuhan, makanan dan budak dalam jumlah besar. Ada sebuah pasar besar untuk  penyamun datang kesitu menjual barang-barang yang dirampoknya dari pulau-pulau lain. “ (Abdullah Tayib, BA, Sejarah Bima Dana Mbojo, 240). Catatan Tome Pires member kontribusi besar bagi sejarah perjalanan tanah Bima dari masa ke masa. Lewat catatannya, generasi kini dapat mengetahui tentang kejayaan Maritim Bima di masa silam, kini dan akan datang.


Penulis : Alan Malingi

Sumber :
1.    Armando Z. Cortesão, Suma Oriental
2.    Henry Chambert Loir & Siti Maryam R. Salahuddin, BO Sangaji Kai,
3.    Abdullah Tayib, BA, Sejarah Bima Dana Mbojo.
4.    Alan Malingi, Mengenang Suba Ngaji, www.bimasumbawa.com




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.