f Selendang Sumbawa - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Selendang Sumbawa

Malam kian rentang, sepanjang apa yang aku pikirkan.Bahkan sunyi mendekap, kian ketat - melekat. Sayang, pulau kapuk yang merupakan tempat aku berlabuh saban malam terasa menjauh dari keinginanku. Ada apa ini, batinku. Eh… tiba- tiba daun telingaku bergetar dan karena getaran aku mulai berkonsentrasi. Haem…, kata-kata Adinda terngiang kembali,” “Abang, ini salendang Sumbawa, kalungkan di lehermu, jika idemu kian buntuh. Lalu, cubitlah hidungku, Abang pasti tersenyum puas”, saran Adinda dua tahun silam saat HUT Adinda dimeriakan di gedung mega itu.

Aku ingat betul dan masih terngiang saat ini. Kini, di April ini, aku malah merindukan colotehmu tentang: perempuan di antara wanita, tentang walikota, tentang gubernur, dan juga tentang masalah cintamu, nyanris terpendam bersama lumpur kian menggunung, hehe. hehehe… sampai mengobrak – abrik isi perutku.

Pasalnya, celoteh – celoteh segarmu membuat aku melirik persoalan perbedaan antara perempuan dan wanita, persoalan politik dan pendidikan, lalu, hokum dan sastra, serta pergolakan lainnya yang justru mendorong aku kian merindukan Adinda. Iya, terutama saat ini, saat HUT-mu yang ke berapa, aku lupa tuh. “Pasti Adinda ingat aku yang lagi bodoh memaknai Salendang Sumbawa yang Adinda kalungkan, eh…ternyata maknanya, menjawab rindumu yang kian membuncah”, gumamku.

Penulis : Usman D. Ganggang


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.