f Arujiki - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Arujiki


Arujiki atau Rezeki adalah karunia Allah SWT bagi kehidupan ummat manusia. Tetapi rejeki tidak mungkin turun atau datang begitu saja tanpa ada ikhtiar atau usaha dari kita. Sikap berpangku tangan, berdiam diri tanpa berusaha sangat dilarang. Rejeki seseorang tentu bergantung pada ikhtiar dan usaha. Leluhur Dana Mbojo mengibaratkan dengan satu ungkapan “ Arujiki Jimba Tiloa Weha Ba Mbe’e “  Jimba berarti  domba. Wati loa berarti  tidak boleh. Weha berarti ambil atau mengambil. Sedangkan Mbe’e berarti kambing. Secara harfiah, ungkapan ini berarti rejeki Domba tidak bisa diambil oleh Kambing. Makna ungkapan ini adalah rejeki seseorang tergantung  usaha dan kerja masing-masing dan tidak mungkin tertukar. Dengan kata lain, rejeki seseorang seirama dengan usaha dan kerja keras masing-masing.

Untuk mendapatkan rejeki yang halal dan berkah bagi kehidupan tentunya harus disertai dengan usaha. Untuk hal ini, tetua Dana Mbojo memberikan motivasi dengan “ Warasi dama wara di kadami “ . Kata Warasi berasal dari kata Wara yang berarti ada. Kemudian mendapatkan tambahan si, maka berarti jika ada. Dama berarti memegang. Di kadami berarti yang dicicipi atau dimakan. Warasi dama wara di kadami secara harfiah berarti jika ada yang dipegang atau dikerjakan, maka tetap ada yang dicicipi atau dimakan. Petuah dan motivasi ini mengandung pengertian bahwa jika ada yang dikerjakan tentu ada yang didapatkan. Ungkapan ini bermuatan hukum sebab akibat. Ada yang dikerjakan dan ada yang dipetik hasilnya.

Masih berkaitan dengan arujiki, para tetua juga sering mengingatkan dan memberikan motivasi agar kita tetap selalu berusaha dan berikhtiar untuk masa depan dan kesejahteraan hidup lahir dan batin. “ Warasi ra ngguda, wara dipoke “. Ungkapan ini berarti jika ada yang ditanam tentu ada yang dipetik.  Filosofi ini tentu sangat berkaitan erat dengan kondisi alam Bima dan mata pencaharian penduduk di bidang pertanian. Istilah “ Ngguda “ atau menanam, poke atau petik, pako atau panen merupakan istilah yang umum sebagai gambaran masyarakat agraris. Maka petuah pun menyesuaikan dengan aktivitas keseharian masyarakat.

Dalam ajaran islam, Allah SWT berfirman “Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6). Berkaitan dengan usaha dan ikhtiar untuk mendapaatkan rejeki, Allah SWT juga menjanjikan  “Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).Oleh karena itu, marilah kita syukuri berbagai nikmat dan rejeki itu agar kita menjadi insan yang ikhlas.  “… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram.

Penulis : Alan Malingi 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.