f Ruhu - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Ruhu


Ruhu adalah tanah datar di lereng gunung atau perbukitan yang hanya diperuntukkan bagi tempat berburu Raja. Pada masa sekarang Ruhu bisa dikatakan sebagai hutan lindung dengan pepohonan yang selalu dijaga dan di padang yang datar ditumbuhi rerumputan dan sedikit pepohonan untuk ladang pelepasan dan pengembalaan ternak. Disamping sebagai tempat berburu, Ruhu menjadi hamparan luas tempat kuda, kerbau dan ternak berkembang biak.
Ruhu sangat luas. Bentangannya meliputi beberapa So atau hamparan ladang. Mata air di sepanjang Ruhu ditetapkan sebagai PARAFU yang sangat dijaga kelestariannya. Parafu adalah tempat yang terlarang untuk diganggu dan dirusak. Ada pamali jika masyarakat mengganggu dan merusak parafu. Jika merusak parafu akan berdampak buruk bagi kehidupannya..
Dalam sejarah Bima, Ruhu mulai diberlakukan pada masa Raja Manggampo Donggo dan Perdana Menteri Bilmana dengan kedua putera Bilmanan La Mbila dan La Ara. Selain membuka Ruhu Bilmana dan Manggampo Donggo juga memulai percetakan sawah dengan sitim gotong royong. Sawah sawah itu diberikan kepada rakyat dan sebagian untuk kerajaan yang dikenal dengan sawah hadat yang digunakan untuk menggaji para pejabat kerajaan.
Van Bram Morris mengemukakan bahwa Kerajaan Bima memiliki ranch pelepasan ternak terutama kuda yang banyak. Kuda kuda itu disamping untuk keperluan perang juga untuk transportasi dan dagingnya untuk dikonsumsi. Dengan sistim Ruhu dan percetakan sawah,kerajaan Bima memiliki cadangan pasokan bahan makanan maupun ternak baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Wilayah wilayah yang ditetapkan menjadi Ruhu antara lain di wilayah Wera, Sape, Lambu, Langgudu, Parado, Donggo dan di wilayah Nitu Rasanae. Untuk menjaga kelestarian Ruhu diangkat pejabat yang dikenal dengan " Nenti Mpori".Nenti berarti memegang atau yang memegang. Mpori berarti rumput. Jabatan ini semacam jabatan pejabat Kehutanan saat ini.
Kebijakan membuka Ruhu, percetakan sawah baru dan pengangkatan Nenti Mpori adalah strategi brilian yang telah ditorehkan Manggampo Donggo dan Bilmana pada masanya. Strategi ini tentu perlu mendapat perhatian kembali di era kini dalam rangka membangun ketahanan pangan di Dana Mbojo.
Sumber Bacaan :
1.      Abdullah Tayib.BA Sejarah Bima Dana Mbojo.
2.      Van Bram Morris, Kerajaan Bima 1886.
3.       Henry Chambert Loir dan Siti Maryam Salahuddin. BO Sangaji Kai.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.