f Berlayar Menuju Lautan Ma'rifat - BIMASUMBAWA.COM | Budaya dan Pariwisata

Header Ads

Berlayar Menuju Lautan Ma'rifat



Lautan Ma'rifat adalah kebahagiaan dunia dan akhirat yang akan dituju oleh insan yang beriman dan bertaqwa. Ada empat titian atau tingkatan yang dilewati oleh orang orang yang beriman menuju apa yang diistilahkan oleh para pengkaji Fitua yaitu Syariat, tarekat, hakikat dan ma'rifat.
Ilmu syariat wajib diketahui dan dipelajari agar mengetahui dan mengenal jalan menuju hadiratNya. Kedua adalah tarekat atau jalan. Setelah menemukan jalan, maka kita akan mengetahui hakikat diri dan untuk apa kita hidup yang pada akhirnya akan berlayar menuju lautan ma'rifat.
Begitu luas dan indahnya lautan ma'rifat dilukiskan dalam bait - bait di bawah ini :
Moti ma'rifa ma ncewi lembo
di loja ngengge ba dou ma imbi
ba ne'ena eda nggari ndiha saroga.
Artinya : 
Lautan Ma'rifat nan luas
Dilayari oleh orang orang yang percaya
yang ingin melihat rimbun dan ramainya surga
Terjemahan di atas adalah secara dentotasi. Tetapi sebenarnya bait di atas memiliki makna konotatif. Moti atau laut sebagai sesuatu yang dijalani, dilayari atau dilewati. Hal itu menunjukkan bahwa dunia dan akhirat sangatlah luas dan lapang. " diloja nggengge ba dou ma imbi" terkandung maksud bahwa hanya orang orang yang percaya atau beriman yang melewati jalan itu.Dou Ma imbi dalam konteks ini adalah orang orang beriman dan bertaqwa yang senantiasa taat kepada perintah Allah.
Kata Nggari secara denotasi berarti rindang. Kata Ndiha secara denotasi berarti ramai. Makna kedua kata itu secara konotasi. adalah keindahan dan kenikmatan surga.
Menurut pegiat Fitua, manis dan kenikmatan dunia hanya sampai kerongkongan.Amalan akhirat lebih penting karena itulah yang akan menyertai selamanya. Hal itu sebagaimana dilukiskan dalam syair berikut ini :
Isi dunia maci mpoa mpa karoto
Rambeita dou dintau ahera
Ede pitu mpompa di dula labo
Artinya :
Isi dunia hanya dirasakan kerongkongan
diberikan pada orang(amalan) untuk akhirat
Hanya itulah yang menyertai kita.
Pegiat Fitua, Sudriman Makka mengemukakan bahwa tidak ada manusia yang mencapai ma'rifat kecuali maqam Rasulullah SAW. Kita hanya diberikan pengetahuan untuk itu. Istilah maqam dalam konteks ini adalah jalan menuju tingkatan apa yang disebut dalam tasawuf " Martabat Tujuh " sebagai insan kamil.
Jika kita tak akan sampai ke lautan ma'rifat, tetapi mari terus berusaha berlayar menuju kehadiratNya. Lautan ma'rifat yang luas dan lapang menunggu orang orang yang berrtaqwa. Mari menikmati nikmatnya hidup di dunia dan akhirat dengan senantiasa berserah diri kepada Allah SWT dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Sumber :
1. Umar Idris, Sadia kota Bima
2. Sudirman Makka, Tolotando Kota Bima
3.Anwar Hasnun, Rabangodu ( Buku Mengenal Sastra Lisan Daerah Bima)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.